Category Archives: materi dasar pecinta alam

Reptile, khususnya ular

dipandang sebagai salah satu sumber kekayaan keanekaragaman hayati yang

memiliki fungsi dan peran tersendiri dalam kehidupan.

Pengetahuan tentang ular ini diharapkan menjadi salah satu upaya

pelestarian terhadap keanekaragaman hayati khususnya ular.

Biolog iUlar

1. Pengukuran ular

2. Sisik Ular dan Pewarnaan

keterangan:

A.Lebar kepala     C. Panjang tubuh   E. Panjang ekor

B.Panjang kepala D. Diameter tubuh   F. Diameter ekor

rata-rata panjang ular 10mm – 9000 mm

Sisik yang dimiliki oleh ular adalah sisik yang berkesinambungan antara

yang satu dengan yang lainnya, sisik ini terbentuk atas lapisan tanduk dan pada

masa-masa tertentu akan mengalami kematian, sehingga ular pada 2 bulan

sekali akan mengalami pergantian kulit. Bentuk-bentuk sisik yang dimiliki

seeko rular diantaranya yaitu bulat, memanjang, meruncing, dan berlunas

Sisik di sini berfungsi sebagai lapisan tahan air dan sebagai penahan agar

dirinya merasa tidak kering.

Warna tubuh ular beragam, menyesuaikan dengan lingkungannya. Sama

dengan hewan-hewan yang lain, warna tubuh ini berfungsi sebagai

penyamaran baik untuk mencari mangsa atau melindungi diri dari

presdatornya.Warna ular tidak bisa menunjukkan tingkatan racun bisa yang

dimilikinya.

Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput

transparan. Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia. Sensor yang

ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya.

3. Indera Penglihatan

Ular membaui melalui lubang hidung, yang dilengkapi dengan organ

Jacobson, yaitu suatu cekungan di langit-langit mulut yang berfungsi

“merasakan” udara sekitar. Seekor ular mengeluar-masukkan lidahnya untuk

menangkap molekul bau dan memindahkannya ke organ Jacobson secara

kimiawi (khemoreseptor). Organ Jacobson dilapisi sel-sel yang dapat

menganalisa bau yang diterjemahkan oleh otak.

Lidah menyentuh

organ jacobson

Organ Jacobson

Nostril

Organ

Jacobson

Otak

Lidah menangkap

molekul bau di udara

Syaraf

4. Indera Pembau

bentuk bentuk

sisikular

bentuk bentuk

mata ular

5. Sensor Panas (Pit nose)

6. Tipe Gigi, Taring Bisa, dan Sistem Bisa

Terletak diantara mata dan lubang nostril,

berfungsi untuk mendeteksi panas yang

dikeluarkan oleh makhluk lain yang

berdarah panas (endotermik), dilapisi

oleh lapisan sel yang di sebut

thermoreseptor. Pesan yang disampaikan

ke otak adalah lokasi dan jarak makhluk endotermik. Namun tidak semua

ula rmemiliki organ ini.

PROTEROGLY PHASOLENOGLYPHA

AGLY PHAOPISTHOGLYPHA

tidak memiliki taring bisa,

jenis ular tidak berbisa

memiliki taring bisa yang

pendek yang terletak agak ke

belakang rahang atas

memiliki taring bisa yang

panjang yang terletak di

bagian depan rahang atas

memiliki taring bisa yang

panjang yang terletak di

bagian depan rahang atas

Taring berwarna putih dengan selaput pembungkus taring yang berwarna

putih agak tebal, guna melindungi mulut agar tidak terluka serta

memudahkan ular untuk menelan mangsa. Selaput ini disebut juga

(hymneglypha)

pitnose

lubang

nostril

7. Cara Makan dan Memangsa

Teknik makan pada ular merupakan teknik yang

mengalami modifikasi dengan sempurna, dalam

halini teknik untuk menelan mangsanya, bahkan

sampai mangsa yang ukurannya 10 kali lebih besar

dari kepalanya. Teknik ini berkembang dikarenakan

ular mempunyai ruas tulang belakang lentur yang

terdiri dari sekitar 400 vertebra. Terkecuali

vertebra ekor, semua vertebra tersebut

mempunyai sepasang tulang rusuk. Bagian bawah

tulang rusuk itu tidak menyambung sehingga dapat

merenggang ketika ular menelan mangsa yang

lebih besar.

Sistem Bisa Ular

Kelenjar bisa ular terdiri atas sel-sel aktif yang membentuk protein. Protein

yang sangat aktif dalam suatu reaksi katalisasi hasil sekresi kelenjar bisa ular

umumnya dikenal dengan nama enzim. Karena begitu reaktifnya enzim yang

dihasilkan oleh kelenjar bisa, maka enzim seperti ini sering dinamakan dengan

holoenzim. Holoenzim sebenarnyaterdiri atas dua bagian. Pertama yang

dinamakan apoenzim dan yang kedua disebut koenzim. Apoenzim umumnya

terdiri atas protein, sedangkan koenzim pada bisa ular tidak terdiri atas asam

amino. Gugusan koenzim inilah yang paling aktif dalam reaksi katalisasi.

Istimewanya, gugus aktif dalam proses katalisasi ini (koenzim) pada bisa ular

justru terdiri atas racun (toksin). Secara global, racun yang terikat pada

gugusan koenzim dibagi menjadi dua macam. Pertama, golongan racun yang

bekerja merusakkan reaksi kimia dalam jaringan darah (hemotoksin). Kedua,

golongan racun yang bekerja merusakkan reaksi yang terdapat dalam jaringan

syaraf (neurotoksin).

8. Pergerakan ular

9. Habitat Ular

Menyamping

Serpentin Konsertina

Linear

Tips

Menangkap Ular dengan Aman

Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam memegang ular adalah dengan

memakai tongkat ular (hook) atau bisa juga dengan sebatang kayu yang

ujungnya dapat dipakai sebagai penjepit kepala ular tersebut (lihat gambar

berikut ini).

Ketika kita memakai hook untuk menangkap ular, usahakan kita berada di

area terbuka, hal ini dilakukan untuk memperkecil resiko ular menyerang kita.

Untuk jenis ular kecil kita dapat dengan mudah memindahkan ular dengan

cara mengangkat ular secara langsung dengan menggunakan hook. Untuk

jenis ular yang terbilang besar, hook biasa digunakan untuk menekan leher

ular.Usahakan agar ular tidak tercekik.

Jika ular sudah dipastikan dalam posisi aman, posisi tangan yang lain

dengan cepat berada di belakang hook untuk mendapatkan genggaman yang

baik untuk memegang leher ular (lihat gambar berikut ini).

Kemudian hook baru dapat diangkat dari leher ular. Metode ini cukup

efektif untuk jenis ular yang panjangnya mencapai 2,5 m. Untuk jenis ular yang

panjangnya lebih dari 2,5 m menggunakan tali bergagang (loop).

sumber gambar: Lydia A.,S.Si.

rahang ular

ternganga

ligamen yang

meregang

sendi

pintu

beberapa cara ular memangsa

membelit mangsanya menelan langsung menyuntikkan bisa

terlebih dulu

Menurut habitatnya, ular dapat dibagi menjadi 5, yaitu :

a.Ular Air (Aquatik)

Ular air adalah ular yang seluruh hidupnya (melakukan segala

aktifitasnya) di dalam air.

Contoh: Ular laut (Laticauda laticauda)

Ular air yang sesungguhnya hanyalah ular laut.

b.Ular Setengah Perairan (Semi Aquatik)

Ular ini terkadang melakukan aktifitasnya di darat dan di air.

Contohnya: Natrix piscator dan Homalopsis buccata

c.Ular Darat (Terresterial)

Ular ini hidup di darat, dan melakukan seluruh aktifitasnya di darat.

Contoh: Ptyas mucosus dan Elaphe flavolineata

d.Ular Pohon (Arboreal)

Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di pohon (arboreal).

Biasanya ular pohon ekornya prehensil (dapat untuk berpegangan /

bergelantungan)

Contoh: Boiga dendrophila dan Morelia viridis

e.Ular Gurun (Desserticolous)

Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di gurun.

Ular gurun biasanya menyembunyikan diri di bawah pasir untuk

menghindari sengatan matahari.

Contoh: Crotalus artox

Beberapa ciri perbedaan antara ular berbisa

dan tidak berbisa

ab a b

c

-bentuk kepala cenderung oval

-ular tidak berbisa rata-rata

memiliki pupil mata bulat (a)

-hanya ada lubang hidung

/nostril(b)

-sisik-sisiknya terbagi ganda/

berpasangan di bagian

bawah ekornya

-tidak memiliki taring bisa

-bentuk kepala cenderung segitiga

-ular berbisa punya

pupil mata lonjong (a)

-ada lubang terbuka/pit nose ©

dekat lubang hidung/nostril (b)

-sisik-sisiknya tidak terbagi

dibagian bawah ekornya

-memiliki taring bisa

Pengecualian pada jenis Elapidae dan jenis Hydropiidae memiliki

bentuk kepala yang membulat (oval) tetapi memiliki racun yang tinggi.

Contohnya: Cobra, Ular Welang, Ular Weling dan jenis ular laut

Pertolongan Pertama Gigitan Ular

Potong disini

1.Usahakan identifikasi jenis ular apakahjenis berbisa atau tidak.

2.Penting sekali meyakinan korban bahwa kematian akibat terpatuk ular

adalah jarang (kecemasan dan ketakutan korban menyebabkan peredaran

darah menjadi cepat, yang dapat menyebabkan bisa semakin luas

tersebar ke seluruh tubuh.)

3.

Jangan dicuci atau diperluas lukanya.

4.Balut seluas mungkin daerah yg terpatuk, usahakan gunakan kayu

penyangga atau kain penggantung. Daerah yang terpatuk lebih rendah

dari jantung.

5.Usahakan korban secepatnya dibawa ke rumah sakit, puskesmas, atau ahli

pengobatan gigitan ular untuk penanganan lebih lanjut.

6.Usahakan beritahukan kepada dokter kalau korban menderita asma, atau

alergi terhadap suatu obat, atau sudah terlebih dahulu mendapatkan

antivenom.Ini berkaitan dengan efek pemberian antivenom yang akan

diberikan.

SERPIENTE tidak menganjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan

racun dengan menyedot melalui mulut. Karena itu sangat beresiko pada si

penolong karena racun dapat mengkontaminasi mulut, gigi, gusi bahkan

tertelan hingga lambung dan usus.

Prinsip pertolongan pertama adalah:

1.menenangkan korban gigitan

2.meringankan rasa sakit, dan

3.berusaha agar bisa tidak terlalu cepat tersebar ke seluruh tubuh.

Pertolongan pertama yang bisa dilakukan antara lain:

Kebiasaan kurang tepat yang biasa dilakukan ketika sedang

berkemah:

1.Menaburi GARAM di sekitar tenda untuk mengusir ular.

Pada dasarnya garam hanya berpengaruh pada hewan Molusca (bertubuh

lunak).Ular tidak termasuk pada kelompok hewan molusca, meskipun

hidup dengan cara melata. Dan tubuh ular tidak akan terpengaruh oleh

garam karena tertutupi oleh sisik.

2.Membuat API UNGGUN untuk mengusir ular.

Api unggun merupakan cara yang terbaik dalam teknik pengusiran hewan

agar tidak mendekati area perkemahan. Tetapi cara tersebut berpengaruh

hanya pada hewan besar, seperti: Beruang, Harimau, dll.

NAMUN, Hal Yang Dapat Dilakukan:

1.Menaruh IJUK di sekitar tenda.

Karena, pada dasarnya ular akan menyingkir jika terkena benda-benda

tajam. Dan kalaupun tidak merasa terganggu ular akan merasa nyaman

bersembunyi di bawah ijuk, yang paling tidak mencegah masuknya ular ke

dalam tenda.

2.Meminyaki sekitar area perkemahan dengan LARUTAN BERBAU

MENYENGAT untuk mengusir ular.

Larutan yang dimaksud seperti halnya minyak tanah, minyak wangi, dsb.

Cara ini dapat digunakan untuk mengusir ular, biasanya mengakibatkan

banyak ular yang berada dalam sarangnya merasa dirinya terusik akan

keluar dan mencari tempat persembunyian lain.

Jika berjalan di hutan atau di semak-semak rimbun, jejakkanlah kaki kuat-kuat

waktu berjalan. Atau pergunakanlah tongkat kayu yang dapat dipergunakan

untuk memukul-mukul semak-semak sebelum kita lewati. Tindakan seperti ini

biasanya menyebabkan ular lari menghindar.

TANDA-TANDA KERACUNAN BISA ULAR

Bisa neurotoksin memiliki tanda gejala antara lain:

1)kelemahan anggota badan;

2)anak ma

ta membesar, mengantuk, dan ptosis (kelumpuhan pada kelopak

mata);

3)sulit menelan, berbicara, dan kelopak mata menutup;

4)perhatikan dengan teliti, kantuk akibat bisa neurotoksin berbeda dengan

rasa kantuk yang sifatnya alamiah. Rasa kantuk karena bisa datang tibatiba

tanpa didahului oleh menguap.

Bisa hemotoksin memiliki tanda gejala sebagai berikut:

1)sekitar bengkak luka patukan mengeluarkan darah; tes pembekuan darah

mundurdari normal;

2)luka patukan kalau disentuh rasanya sakit sekali;

3)pasien merasa panas dan banyak mengeluarkan keringat;

4)jika pasien disuruh mengeluarkan ludah (sputum) dari paru-paru,

terdapat bercak-bercak darah yang menggumpal (hemoptisis); dan

5)terjadi pendarahan pada gusi.

PUSTAKA:

-Britanica Illustrated Science Staff. 2008. Reptiles and Dinosaurs,Britanica

Illustrated Science Library.

-Lim, F. Leong Keng. 1990. Fascinating Snakes of Southeast Asia: an

Introduction. Tropical Press.Kualalumpur.

The Great Big Book of Snakes &

Reptiles. Annes Publishing Ltd.London.

-Suhono, B. 1986. Ular-ular Berbisa Di Jawa. Antar Kota. Jakarta.

-Taylor, Barbara and Mark O’Shea. 2004.

-Tweedie, M. W. F. 1983. Snakes Of Malaya. The Raffles Museum, Singapore.

Singapore.

CLIMBING

Macam-macam Climbing, Climbing terbagi 5 macam yaitu:

1) Bouldering
Pemanjatan tanpa menggunakan alat khusus dengan ketinggian maksimal 5 meter.

pemanjatan ini dilakukan sebagai pemanasan untuk pemanjatan pada medan yang lebh tinggi.

2) Aid Climbing / Artifical Climbing (Direct Aid Climbing)
Pemanjatan tebing ini dilakukan dengan menggunakan alat yang selengkap-lengkapnya

3) Bigwall Climbing (Indireck Aid Climbing)
Pemanjatan dengan menggunakan alat atau tidak dengan maksimal ketinggian 5 meter.

4) Free Climbing
Pemanjatan dengan menggunakan alat pengaman seadanya.

5) Free Soloing Pemanjatan ini biasanya dilakukan oleh master-master climbing karena memerlukan pengetahuan tentang climbing lebih jauh dan pemanjatan ini dilakukan tanpa pengaman sama sekali pada tebing-tebing yang tinggi.

LANHKAH AWAL
2.2 Latihan Fisik
Seorang climber biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan pemanjatan. Latihan fisik yang biasanya dilakukan diantaranya:
1) Push up
(min 100x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih jari agar lebih kuat dalam memegang point.2)
Full up (min 15x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih otot tangan .3)
Sit up (min 75x dalam satu waktu),
kegunaannya yaitu untuk melatih otot perut.4) Lari kegunaanya untuk melatih kaki agar tidak kram saat melakukan pemanjatam
5) Jumping jack2.3 Peralatan Climbing1) TaliTali dibagi 2 macam Tali serat alam (tali dadung)
Tali serat sintetis
Tali serat sintetis menjadi dibagi 2 yaitu. Tali Hau serlaid (terbuat dari nilon)
b. Tali Kern mantel, tali ini dibagi 2 bagian yaitu bagian mantel biasanya bagian ini terbuat dari kain khusus dan bagian inti yang umumnya bagian ini terbuat dari serabut-serabut nilon.

Tali kern mantel ada 3 jenis yaitu:
a. Dinamis, tali ini lentur dengan daya regang sekitar 30 % biasa digunakan untuk climbimg
b. Statis, tali ini kurang lentur dan daya regang sekitar 15% biasa digunakan untuk rappelling.
c. Semi, daya regang antara dinamis dan statis dapat digunakan untuk climbing maupun rappelling.

Cara perawatan tali
1. Usahakan tali jangan terlalu banyak terkena sinar matahari
2. Jaga tali jangan sampai tergesek benda tajam
3. Cuci tali kemudian keringkan di tempat yang tidak terlalu panas

4. Bila sudah kering gosok tali dengan menggunakan lilin
Hal yang dapat merusak tali

1.Tergesek benda tajam
2.Terlalu banyak terkena sinar matahari
3.Pemakaian yang tidak selayaknya, missal:tali dinamis dipakai untuk rappeling

2) Carabiner
Carabiner adalah pengaman pemanjat berupa cincin kail yang meyambungkan raner dengan badan climber yang dipasang pada harness.

Bahan-bahan carabiner:
1. Besi Baja
2. Campuran alumunium Jenis pinti carabiner:

1. Memakai kunci (screw gate,), carabiner jenis ini lebih aman tapi sulit untuk dipasang atau dilepas
2. Tanpa kunci, carabiner ini lebih mudah untuk dipasang dan dilepas tapi keamanannya tidak seperti carabiner screw gate.
3) HarnesYaitu pengaman yang dipakai oleh climber
Jenisnya yaitu:-sit harness
-full boby (body harness)4) SlinkSlink yaitu tali penggabung carabiner
Slink ada 2 macam yaitu:

a slink pita dapat digunakan untuk menyambung carabiner

b.slink prusik5) Raner
Raner yaitu gabungan antara carabiner dan slink6)

Sepatu Panjat
Sepatu panjat biasanya terbuat dari karet mentah, bagian depan dari sepatu panjat ini lebih keras agar kaki climber tidak sakit.7) Webing
Webing biasanya digunakan untuk pengaman badan climber pengganti harness yang umumnya terbuat dari nilon.
Kapasitas menahannya sekitar 4000 pon dan kekuatan menahannya tergantung dari simpulnya. 8)

Piton
Piton biasanya digunakan pada saat memanjat tebing alam fungsinya sebagai pengaman pemanjatan pengganti raner yang digunakan pada bongkahan-bongkahan batu.9) Cok
Cok bermacam-macam bentuknya, diantaranya bentuk persegi empat dan persegi enam. Bentuk segi empat panjangnya dari ½ cm-1 ½ cm dipasang pada bongkahan-bongkahan tebing, segienam ukuran panjangnya 2cm-5cm. Tali cok terbuat dari baja. Keuntungan menggunakan cok sebagai raner pada bongkahan-bongkahan batu ditebing adalah dapat dilepas kembali dengan menggunakan alat pembukanya.
10) Figure of eight Digunakan pada biley/ rappelin
11) Glops
Sarung tangan yang biasa dipakai oleh biley/ rappeling untuk menghindari gesekan langsung ke tali.12)

Helmet

Helmet digunakan sebagai pelindung kepala climber

13)Chock Bag
Digunakan sebagai pengemas chock(magnesium) yang fungsinya untuk tangan dan kaki agar tidak licin ssat memanjat.
14) Stik Plan

Digunakan sebagai duscander untuk menuruni tebing umumnya terbuat dari alumunium
15) Rock Bandering
Pada zaman dahulu sering digunakan untuk mengemas peralatan panjat, tapi sekarang sudah tidak dipakai karena telah ditemukan harness untuk membawa peralatan panjat.
16)Ascander
Ascander digunakan untuk naik diudara(bukan pada tebing) dapat juga digunakan untuk menaiki tebing yang posisinya vertical.17)Discander
Discander digunakan untuk turun dengan menggunakan tali bukan pada tebing.
18) Pulley
Pulley digunakan untuk mengangkat peralatan dari bawah kepuncak tebing, bentuknya seperti katrol kecil dan terbuat dari campuran beton dan alumunium.

2.4 TEKNIK PEMANJATAN
A. Kategori pemanjatan berdasarkan kondisi permukaan tebing:
Face climbing
– Fristion Climbing
– Fissure Climbing

B. Tumpuan
Tumpuan tangan
Tumpuan kaki

C. Gerakan
1. pemilihan jalur
2. keseimbangan dan koordinasi
3. penyesuaian tubuh terhadap tumpuan
4. penghematan energi dan istirahat
5. Traversing
6. janning, crack climbing, cinney7. mantlehelp8. ‘ v ‘ dan operhang
9. climbing down 2.5 BILEY
Biley adalah orang yang menentukan keselamatan dari climber oleh karena itu seorang biley harus berkonsentrasi penuh untuk menghindari kecelakaan pada climber. Maka dari itu dibutuhkan komunikasi dan kekompakan yang baik antara climber dan biley.

2.6 TEKNIK PEMASANGAN
Dalam pemasangan instalasi climbing, tali tidak boleh terkena / tergesek tebing langsung karena dapat merusak tali oleh karena itu diperlukan carabiner da slink untuk mengikat tali. Pemasangannya harus tepat dan benar untuk menghindari kecelakaan dan untuk memberikan rasa aman, nyaman pada saat pemanjatan.

RAFTING

I. Pendahuluan

Arung jeram atau rafting adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun. Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan arung jeram. Yang anda perlukan hanya kondisi fisik yang prima dan reservasi 2 minggu sebelum kegiatan.

Guna menunjang kegiatan kita bersama kawan, agar kegiatan arung jeram yang akan anda ikuti lebih berkesan dan penuh makna, berikut kami sampaikan Panduan Kegiatan Arung Jeram.

I. Pendahuluan

Arung jeram atau rafting adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun. Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan arung jeram. Yang anda perlukan hanya kondisi fisik yang prima dan reservasi 2 minggu sebelum kegiatan.

Guna menunjang kegiatan kita bersama kawan, agar kegiatan arung jeram yang akan anda ikuti lebih berkesan dan penuh makna, berikut kami sampaikan Panduan Kegiatan Arung Jeram.

II. Perlatan Arung Jeram

A. Riverboats (Perahu)

Bagian-bagian yang terdapat pada perahu :

1. Bow and Stern

2. Chamber atau biasa disebut tube

3. Floor

4. Thwart

5. Boat line (tali kapal)

6. D Ring

7. Handling Grip

8. Bilge Hole/self bailing

9. Valve

Cara duduk di perahu berbeda dengan cara duduk di kursi, yaitu dengan menyamping. Peserta duduk pada sisi perahu (baik sisi kiri maupun sisi kanan) dan kaki dalam posisi kuda-kuda pada lantai perahu. Posisi kuda-kuda ini dimaksudkan sebagai pengatur keseimbangan badan selama anda mengikuti pengarungan. Saat duduk di perahu , perhatikan jangan sampai ada bagian tubuh anda yang terikat atau terlilit tali. Ini sangat berbahaya jika perahu mengalami flip atau terbalik. Posisi duduk anda pun harus mudah untuk menggapai boat line.

Bila boat line pada perahu anda terlihat kendur, beritahukan segera pada skipper anda untuk mengencangkan boat line tersebut agar tidak mengganggu selama pengarungan.

Aturlah jarak duduk anda dengan peserta yang lain agar tidak mengganggu pergerakan selama pengarungan, baik untuk mendayung maupun saat menjalankan instruksi ‘moving position atau perpindahan’.

B. PFD (Personal Floating Device) / Life Jackets (Pelampung)

Seperti perahu, PFD atau pelampung memiliki berbagai jenis dan ukuran. Terbuat dari bahan polyfoam yang dibungkus dengan bahan kedap air yang berwarna terang. US Coastal Guard menganjurkan memakai PFD type III pada setiap kegiatan arung jeram, dan ini digunakan pula oleh para rafter dalam setiap pengarungannya.

Setiap PFD Type III ini memiliki daya apung tinggi, yang dihitung berdasarkan berat tubuh rata-rata saat berada didalam air sehingga anda tidak perlu takut tenggelam saat berada didalam air.

Cara pemakaian PFD/Pelampung :

Pilihlah PFD yang berwarna cerah, pastikan tidak ada lubang atau jahitan yang terlepas pada PFD tersebut, serta strap yang ada dapat dipasang dan dilepas dengan mudah. Bila bagian perut anda lebih besar dari bagian dada, pilih dan pakailah PFD dengan ukuran lebih besar.

PFD atau pelampung dipakai seperti menggunakan rompi/jaket. Pastikan setaip strap terpasang dengan benar dan bantalan kepala berada di luar. Atur ke-eratan tali senyaman mungkin, sehingga PFD yang anda gunakan tidak terlalu sempit atau longgar.

Setelah anda selesai memakai PFD, lakukan gerakan berikut :

i. Pada posisi berdiri, putarkan badan anda kekiri dan kekanan. Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda dan tidak mengalami pergeseran/perubahan posisi. Ini ditandai dengan letak strap tetap pada 1 garis tegak lurus seperti posisi kancing kemeja. Jika terjadi pegeseran, atur kembali ke-eratan tali pada setiap strap yang ada. Jangan malu dan ragu untuk minta skipper/rekan anda membantu mengatur ke-eratan tali strap ini.

ii. Pada posisi duduk dan kedua kaki diluruskan kedepan, putarkan badan anda kekiri dan kekanan lalu lakukan gerakan membungkuk. Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda. Jika terjadi pegeseran, atur kembali ke-eratan setiap strap yang ada.

iii. Masih dalam posisi duduk dan kedua kaki diluruskan kedepan, minta bantuan skipper/rekan anda untuk menarik/mengangkat pelampung yang anda gunakan pada bagian bahu dari arah belakang. Pastikan saat pelampung dan tubuh anda ditarik/diangkat, posisi bahu pelampung tidak melebihi batas telinga anda. Jika ya, atur kembali ke-eratan setiap strap yang ada.

C. Paddle (Dayung)

Setiap dayung terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1) Pegangan, berbentuk huruf T, biasa disebut T grip.

2) Gagang, terbuat dari bahan alumunium.

3) Blade/bilah, terbuat dari bahan fiber dilapisi serat karbon yang ringan dan kuat. Namun ada pula yang terbuat dari bahan campuran plastik.

Cara memegang dayung :

Memegang dayung dalam kegiatan arung jeram mirip dengan cara memegang sapu. Yang membedakannya hanya pegangan pada bagian T Grip. T-grip digenggam dengan 4 jari pada bagian atas pada bagian T horisontal (dayung dalam posisi berdiri dan bagian bilah berada dibawah), sementara jari jempol menjepit bagian T horisontal dari bagian bawah bawah. Cara memegang ini sama untuk tangan kiri (peserta yang duduk pada bagian kanan perahu) maupun tangan kanan (peserta yang duduk pada bagian kiri perahu).

Lengan yang lain menggenggam bagian gagang, berjarak lebih kurang 1 jengkal dari bilah dayung, jangan terlalu dekat/rendah ataupun terlalu jauh/tinggi. Biasakan diri anda dengan cara memegang dayung ini, baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri, lakukan pemanasan dengan menggunakan dayung bersama rekan-rekan anda.

D. Helm

Pilihlah helm yang akan anda gunakan sesuai dengan ukuran kepala anda. Pastikan tidak ada keretakan pada helm tersebut serta semua tali dan strap masih dalam kondisi yang baik.

Pakailah helm seperti pemakaian helm umumnya. Atur strap senyaman mungkin, jangan terlalu sempit atau terlalu longgar agar tidak mengganggu pandangan anda selama pengarungan. Sekali lagi, pastikan strap sudah terpasang dan pada posisi yang benar.

III. Paddle Command (Instruksi yang diberikan oleh skipper dalam pengarungan)

Setelah anda terbiasa dengan cara memegang dayung, anda akan diberikan instruksi cara menggunakan dayung tersebut. Instruksi ini disebut Paddle command. Prinsip dalam menggunakan dayung adalah tenaga disalurkan pada kedua lengan yang menggerakkan dayung untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu, dimana arah dayungan tersebut dibantu dengan gerakan badan, disesuaikan dengan tenaga yang diperlukan untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu.

Basic Paddle Technic, instruksi tentang teknik dasar mendayung, yaitu :

1) Forward (Maju)

Instruksi yang diberikan untuk dayungan maju, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada didalam air kearah belakang searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah tegak lurus terhadap permukaan atau mendekati 900 dan padasaat keluar dari air dayung diarahkan sejajar dengan permukaan terus berputar mendekati 900 hingga bilah dayung kembali menyentuh air.Dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.

2) Backward (Mundur)

Instruksi yang diberikan untuk dayungan mundur, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada didalam air kearah depan searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah sejajar dengan permukaan air, begitupun saat keluar dari air dayung diarahkan sejajar dengan permukaan trus berputar hingga bilah dayung kembali menyentuh air. Dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.

3) Turn Left (Belok Kiri)

Instruksi yang diberikan untuk membelokkan perahu kearah kiri,dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kanan, sementara peserta yang duduk pada perahu bagian kiri berada pada posisi stop mendayung.

Jika skipper merasa perlu untuk membelokkan perahu kekiri dengan cepat,maka posisi peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.

Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan kanan maju dan kiri mundur! Artinya peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan maju, sementara peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.

4) Turn Right (Belok Kanan)

Instruksi yang diberikan untuk membelokkan perahu kearah kanan, kebalikan dari instruksi turn left (belok kiri), dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kiri,sementara peserta yang duduk pada perahu bagian kanan berada pada posisi stop mendayung.

Jika skipper merasa perlu untuk membelokkan perahu kekanan dengan cepat, maka posisi peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur.

Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan kiri majudan kanan mundur! Artinya peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan maju, sementara peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur.

5) 5. Stop (Berhenti)

Instruksi yang diberikan untuk menghentikan dayungan, dimana semua dayung tidak berada didalam air, di genggam dengan posisi berada diatas pangkuan.

IV. Self Rescue

Dalam kegiatan arung jeram, keselamatan setiap peserta adalah hal yang utama.Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan arung jeram ini. Namun tetap perlu disadari oleh setiap peserta bahwa kegiatan arung jeram ini tidak akan pernah lepas dari segala resiko dan bahaya, baik oleh faktor manusia, peralatan maupun faktor alam yang menyertainya. Tapi anda tidak perlu cemas, karena justru disinilah letak salah satu kegembiraan yang akan anda rasakan saat bermain-main dengan air.

Self rescue atau tindakan penyelamatan diri saat melakukan kegiatan arung jeram ini perlu anda cermati betul. Walau anda akan dipandu oleh skipper yang berpengalaman, namun skipper tersebut tetap memiliki keterbatasan. Sehingga hal terbaik yang harus anda lakukan adalah melakukan tindakan penyelamatan diri sebelum datang team rescue yangakan membantu anda.

Prinsip setiap tindakan penyelamatan dalam kegiatan arung jeram adalah menyelamatkan diri sendiri sebelum melakukan tindakan penyelamatan terhadap orang lain, dan si penyelamat harus benar-benar berada dalam kondisi yang aman dalam melakukan tindakan penyelamatan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari resiko lainnya dan kemungkinan bertambahnya korban.

Berikut dijelaskan hal apa saja yang harus anda lakukan dalam self rescue.

Swimmer
Swimmer adalah istilah yang digunakan oleh kalangan boater untuk menyebut orang yang terlempar keluar dari perahu saat berarung jeram. Jika anda belum pernah mengalaminya, percayalah suatu saat anda akan mengalaminya (Believe Me !!!). Bagi anda yang kali pertama melakukan kegiatan arungjeram, anda tidak perlu khawatir. Banyak peserta yang kali pertama mengikuti kegiatan arung jeram mengalami hal ini dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka bahkan menjadi cerita menarik bagi rekan-rekannya dan menimbulkan kesan tersendiri bagi yang mengalami. Namun tidaksedikit pula peserta yang tidak mengalaminya dalam setiap kegiatan yang diikuti.

Hal pertama yang harus anda lakukan jika mengalami swimmer adalah JANGAN PANIK!!!

Mengapa jangan panik? Karena jika terjadi kepanikan, anda tidak akan tahu apa yang harus anda lakukan untuk tindakan self rescue. Setelah anda dapat mengatasi rasa panik, selanjutnya anda harus menyadari dan mengetahui situasi disekeliling anda.

Teknik berenang di arus

a. Defensive swimming position

Defensive swimming position adalah berenang mengikui arus dalam posisi terlentang. dengan kaki dalam keadaan rapat dan selalu berada diatas air untuk menghindari foot entrapment. Defensive swimming dilakukan pada arus yang deras dengan pandangan terarah kehilir. Gunakan tangan sebagai pengatur keseimbangan atau untuk menuju pinggiran sungai dan menghindari berbagai rintangan lainnya.

Ingat… walaupun tidak terjadi sesuatu selama anda melakukan defensive swimming dan anda mulai menikmatinya, tapi anda tidak dalam posisi yangbenar-benar aman. Berusahalah untuk menggapai tepian sungai dan segera keluar dari air. Jangan mencoba untuk berdiri meskipun pada daerah yang dangkal, sebelum anda mencapai tepian sungai atau berada pada arus yang cukup tenang.

b.Aggressive swimming position

Aggressive swimming position adalah berenang dengan cara melawan arus. Dilakukan pada arus yang relatif tenang dengan posisi menghadap ke hulu.Tujuannya untuk mendekati perahu penolong, menghindari strainer,sieves, undercut, dan untuk menyeberang kesisi tepian sungai yang laindengan cepat. Ingat Aggressive swimming ini hanya efektif dilakukan pada arus sungai yang relatif tenang. Jika anda lakukan hal ini pada arus yang deras tenaga anda akan terbuang percuma dan anda tetap terseret oleh arus yang deras.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat membantu anda mendefinisikan situasi disekeliling anda saat anda mengalami swimmer dan menentukan tindakan apa yang harus anda lakukan

* Apakah dibelakang anda terdapat perahu? (Baik perahu yang melemparkan anda ataupun perahu lain)

Jika ya,berusahalah untuk mendekatinya dari arah samping pada arus yang relatif tenang dengan Aggressive swimming position, jangan lakukan dari arah depan karena anda dapat terseret oleh perahu tersebut. Jika telah dekat, gapai dan peganglah boat line yang ada pada perahu tersebut.Tunggu sampai rekan anda menarik dan menaikkan anda ke atas perahu kembali dengan cara menarik bahu pelampung yang anda kenakan.

Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

* Apakah didekat anda terdapat team rescue yang akan melemparkan throw bag/rescue rope pada anda?

Jika ya,raih throw bag/rescue rope yang dilemparkan. Pegang erat pada bagiantali, jangan pada bagian kantong tali. Pegang dengan tetap melakukan teknik defensive swimming, sambil team rescue menarik anda ke tepian sungai.

Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

* Apakah di dekat anda terdapat rintangan atau obstacle? (Bebatuan, dahan/ranting atau pohon yang tumbang)

Jika ya, hindari daerah tersebut baik dengan Aggressive swimming atau pun defensive swimming.

Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

* Apakah didekat anda terdapat under cut, strainer dan sieves?

Jika ya, hindari daerah tersebut secepat mungkin dengan Aggressive swimming.
Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

* Apakah anda berada di bawah perahu yang terbalik?

Jika ya,segeralah keluar dari bawah perahu tersebut dengan cara menyelam kearah hulu atau ke samping, jangan menyelam ke arah hilir karena anda akan tetap terperangkap dibawah perahu.

Jika tidak, lakukan aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

* Apakah anda berada di dalam hole/hydraulic (Arus yang berputar-putar) ?

Jika ya,lakukan aggressive swimming dengan mengikuti putaran arus kearah luar yang menuju hilir, atau dapat dilakukan dengan menyelam pada bagian tengah pusaran dengan posisi berdiri sampai kaki menyentuh dasar sungai, lalu tolakkan kaki anda sekuat mungkin ke arah hilir.

Jika tidak, lakukan aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.

:: Klasifikasi Tingkat Kesulitan Sungai ::
Tak disangsikan lagi, arung jeram telah menjadi suatu kegiatan yang sangat populer dibandingkan dengan kegiatan ke petualangan lainnya. Dapat dinikmati beramai-ramai tanpa memandang usia, status sosial, tingkat pendidikan dan profesi seseorang.
Saat ini telah banyak sungai yang dapat diarungi serta dikelola secara profesional oleh beberapa operator arung jeram. Mereka menawarkan berbagai paket kegiatan dengan tingkatan umur dan kemampuan dari calon kunsumennya. Mulai dari sungai dengan tingkat kesulitan mudah sampai dengan sungai yang menjanjikan tantangan dan petualangan.
Berikut penjelasan tentang tingkat kesulitan sungai :

Class I

Tingkat kesulitan sungai yang paling rendah, dengan arus yang bervariasi dari flat (datar) dan relatif tenang sampai sedikit beriak pada beberapa tempat. Rintangan yang ada pun sangat sedikit dan dapat terlihat jelas. Resiko berenang di sungai ini sangat rendah dan self-rescue sangat mudah dilakukan.

Class II

Sungai dengan tingkat kesulitan rendah – menengah. Cocok untuk pemula, dengan sungai yang lebar dan arus yang cukup deras, lintasan pengarungan jelas sehingga tidak memerlukan pengamatan terlebih dahulu.

Sesekali manuver perahu perlu dilakukan, namun bebatuan dan jeram medium dapat dengan mudah dilewati oleh pengarung yang terlatih. Penumpang yang terlempar keluar perahu dan terhanyut jarang sekali mengalami cidera.

Pertolongan bantuan masih belum perlu. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk latihan dasar kegiatan arung jeram.

Class III

Sungai dengan tingkat kesulitan menengah, memiliki jeram yang mulai tidak beraturan dan cukup sulit serta dapat menenggelamkan perahu. Manuver-manuver pada arus yang deras serta kontrol perahu pada lintasan sempit sering diperlukan. Jeram-jeram besar dan “strainers” mungkin ada namun dapat dengan mudah dihindari. Pusaran arus yang kuat dan deras sering ditemukan, terutama pada sungai-sungai besar.

Cidera saat terlempar keluar perahu dan terhanyut masih sangat jarang; self-rescue biasanya masih mudah dilakukan namun pertolongan bantuan sudah mulai diperlukan untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk kegiatan wisata keluarga atau sebagai rekreasi alternatif karena dapat diikuti oleh anak-anak yang berusia 9 tahun.

Class IV

Sungai dengan tingkat kesulitan menengah – tinggi. Sungai ini memiliki arus yang sangat deras namun masih dapat diprediksi dengan pengendalian perahu yang tepat. Teknik pengarungan pada sungai ini sangat tergantung pada karakter sungai itu sendiri, karena sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat beragam dan berbeda-beda walau memiliki tingkat kesulitan yang sama.

Jeram-jeram besar, hole dan lintasan sempit yang tidak dapat dihindari memerlukan manuver yang cepat. Berhenti sejenak pada arus yang sedikit tenang mungkin diperlukan sebelum memulai maneuvers sekedar mengamati arus atau untuk istirahat. Karena pada jeram-jeram tertentu, bahaya selalu mengancam.

Resiko cidera bagi penumpang yang hanyut cukup besar dan kondisi air menyebabkan self-rescue sulit dilakukan sehingga perlu pertolongan bantuan. Pertolongan bantuan tersebut memerlukan latihan khusus agar teknik penyelamatan dapat dilakukan dengan benar.
Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat menyenangkan dan menjanjikan tantangan lebih, tentunya dengan dukungan peralatan yang memadai, pengetahuan yang cukup dan pemandu yang terampil.

Class V

Sungai dengan tingkat kesulitan tinggi dan hanya cocok untuk pengarung jeram yang sudah menguasai teknik pengarungan dan memiliki pengalaman yang cukup pada sungai

Class IV.

Sungai yang tergolong pada sungai class V memiliki jeram yang banyak dan panjang dengan berbagai rintangan yang dapat menyebabkan resiko tambahan bagi seorang pendayung. “Drops” atau penurunan yang tiba2, Jeram-jeram sulit, “hole” dan tebing terjal yang tidak dapat dihindari sampai dengan waterfall (air terjun) sering dijumpai pada sungai ini. Jeram yang dilewati sering kali beruntun pada jarak yang cukup panjang, sehingga membutuhkan ketahanan fisik yang tinggi. Kalaupun ada pusaran air yang tenang (eddies), jumlahnya sangat sedikit sekali dan cukup sulit untuk diraih. Pada skala tertinggi, Sungai dengan tingkat kesulitan ini memiliki kombinasi jeram yang sangat beragam, mulai dari curler, hair, hay stakes, headwall, strainer, under cut, wave train sampai dengan pin hole yang sangat berbahaya dan mematikan.

Terlempar keluar dari perahu pada sungai ini sangat berbahaya dan tindakan penyelamatan sering sulit dilakukan bahkan untuk seseorang yang mahir sekalipun. Peralatan yang tepat, pengalaman yang luas dan latihan keterampilan dalam penyelamatan sangat penting.

Class VI

Sungai yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi. Pengarungan di sungai ini hampir tidak mungkin dilakukan kerena jeram yang ada tidak dapat diprediksi dan sangat berbahaya. Konsekwensi dari suatu kesalahan dalam pengarungan disungai ini sangat berat serta tindakan penyelamatan hampir tidak mungkin. Sungai dengan tingkat kesulitan ini hanya untuk tim khusus yang memiliki keahlian tinggi -bukan untuk diarungi perorangan- setelah sering kali melakukan pengarungan pada sungai dengan tingkat kesulitan class V.
Klasifikasi tingkat kesulitan sungai diatas merupakan tingkat kesulitan sungai yang ditetapkan secara internasional. Namun klasifikasi ini masih sangat variatif dan dapat berubah-ubah walau masih pada sungai yang sama, karena tingkat kesulitan ini sangat tergantung pada debit air dan kemiringan sungai. Sehingga pada waktu-waktu tertentu sungai-sungai tersebut memiliki tingkat kesulitan yang mungkin bertambah atau mungkin berkurang.
Karena itu oleh kalangan penggiat arung jeram dibelakang Class sungai sering ditambah dengan tanda + (plus). Misalnya sungai Citarik memiliki tingkat kesulitan III+ artinya pada jeram-jeram tertentu sungai citarik memiliki tingkat kesulitan yang setara dengan sungai Class IV.

CAVING

1. A. SPELEOLOGI

Speleologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gua. Diambil dari kata-kata yunani spelation = gua dan logos = ilmu. Namun gua tidak bisa berdiri sendiri, tetapi terdapat struktur alam yang melingkupi. Jadi speleologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gua beserta lingkungannya.

Di indonesia ilmu ini berkembang tahun 1980-an. Sedangkan di inggris dan jerman sudah dipelajari secar intensif mulai pertengahan abad 19. Sebelum membicarakan speleologi lebih lanjut, harus kita ketahui defisi dari “gua “ itu sendiri,

1. Menurut ius (internasional union of speology) yang berkedudukan di wina, austria. Gua adalah setiap ruangan di bawah tanah, yang dapat dimasuki orang
2. Menurut dr r. K. T. Ko (ketua hikespi,1985). Gua adalah suatu lintasan sungai di bawah tanah yang masih mengalirnya (khususnya daerah batu gamping)

Gua memiliki ciri khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya, yaitu pada saat udara di luar panas, maka udara di dalam gua akan terasa sejuk, begitu sebaliknya.

Sifat tersebut menyebabkan gua dipergunakan tempat berlindung. Jenis gua di indonesia kebanyakan batuan gamping/karts.

Lahirnya ilmu speleologi
secara resmi ilmu speleologi lahir pada abad 19 an berkat ketekunan edward alferd martel, sewaktu kecil ia memasuki gua hahn di belgia dengan ayahnya seorang ahli paleontologi, kemudian mengunjungi gua pyrenee di swiss dan italia.

pada tahun 1888 ia memulai memperkenalkan penelusuran gua menggunakan alat, pada musim panas ia dan teman-temannya mengunjungi dengan membawa gerobak yang isinya peralatan untuk penelusuran gua (martel, alat pengukur, kompas, alat p3k dan makanan) karena kegigihan dia dalam meneliti gua maka edward ini disebut barak speleologi.

lahirnya speleologi di indonesia, berkembang pada tahun 1980 dan olah raga alam ini masih tergolong baru dibandingkan rafting, mountenering dan panjant tebing. Pada tahun ini terdapat club yang berkecimpung masalah keguaan yaitu specavina yang didirikan oleh norman edwin dan dr r.k.t ko ketua hikepsi sekarang. Namun dengan perbedaan pendapat maka terpecahlah ada yang masih mendirikan hekespi dengan ketuanya dr. R.k.t ko dan norman e mendirikan club yang berpusat di jakarta yaitu garba bumi. Kemudian tahun tersebut muncul club-club penyusur gua diantaranya :

1. Bsc : bogor speleological club
2. Dsc : denpasar speleological club
3. Scala : speleo club malang
4. Sss : salamander speleo surabaya
5. Jsc : jakarta speleo club
6. Asc : acintyacunyata speleoligical club

Dari beberapa club di atas yang masih ksis yaitu asc yang lain sudah tinggal nama.

1. B. Sejarah Penyusuran Gua

Penyusuran gua pertama kali dilakukan oleh John Beaumont, seorang ahli bedah dari Somerset, England pada tahun 1674. namun penyusuran tersebut tidak dilandasi oleh tujuan yang jelas, sehingga pelaksanaannya kurang matang.

Sedangkan orang yang berjasa dalam mendeskripsikan gua-gua dengan tujuan ilmiah adalah Baron Johan Valsavor (Slovenia) sekitar tahun 1670 – 1680. Ia berhasil memasuki 70 gua, membuat peta, sketsa dan menyusun buku setebal 2800 halaman.

Sedangkan penelusuran gua di Indonesia sendiri, mulai muncul pada tahun 1980 dengan berdirinya “Specavina” oleh Norman Edwin dan Dr. R.K.T. Ko, yang selanjutnya bercabang menjadi “Gerba Bumi”, yaitu sekelompok penelusur gua yang berkiblat ke petualangan dan olah raga, serta “Hikespi” yaitu kelompok penelusur gua yang berakibat pada penelitian ilmiah dan konservasi.

Gua adalah bentukan lorong, sumuran, ruangan yang ada didalam tanah. Menurup IUS (International Unio of Speleology) berkedudukan di Wina, Australia, gua adalah sebuah ruang di bawah tanah yang bisa dimasuki oleh manusia.

Ilmu yang mempelajari tentang gua dan lingkungannya disebut speleology. Berasal dari bahasa Yunani yaitu spelalion = gua, dan logos = ilmu, lingkungan sekitar gua dapat berupa aliran lava yang membeku, batu pasir (sandstone), batu gamping (karts), gletser dan sebagainya.

Ada juga istilah spelunca (bahasa latin dari gua). Di Indonesia istilah yang paling sering dipakai adalah penelusuran gua (caving) tanpa merujuk tujuannya masuk gua.

1. C. Pengetahuan Tentang Gua

Menurut proses terbentuknya, gua dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Gua Lava, yaitu gua yang terbentuk akibat aktifitas vulkanik dari gunung berapi. Ketika terjadi letusan, lava yang dimuntahkan mengalir kebawah membentuk alur-alur memanjang. Ketika bagian atas/permukaan lava sudah membeku, laca yang dibawah permukaan masih mengalir terus sehingga menimbulkan rongga atau lorong.
2. Gua Littoral, yaitu gua yang terbentuk didaerah tebing pantai, akibat pengikisan yang dilakukan oleh angin dan gelombang laut.
3. Gua Kapur atau Limenstone, yaitu gua yang terjadi didalam daerah batuan kapur/limenstone, akibat dari pengikisan air terhadap batuan kapur di dalam tanah. Gua kapur inilah yang menjadi obyek penelusuran dan ekspoitasi bagi pecinta alam atau penelitian yang tidak habis-habisnya oleh para ilmuwan. Hal ini disebabkan karena banyak daerah atau kawasan hunian yang berstruktur batuan kapur, sehingga gua-gua yang ada disekitarnya, bagaimana pun juga mempunyai pengaruh positif maupun negatif bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.

Proses Terjadinya Gua Kapur

Batuan kapur terbentuk dari kalsium karbonat yang tidak mudah larut oleh air. Tetapi air hujan yang mengandung karbondioksida (hasil penyerapan udara dan tanah) dapat melarutkannya. Batuan kapur mempunyai karateristik yang khas yaitu banyak retakan-retakan horizontal maupun vertikal. Dan ketika air hujan masuk ke celah tersebut terjadi pelarutan sehingga celah/retakan tersebut makin lama makin membesar.

Semua aktifitas diatas terjadi di lapisan bawah tanah dari batuan kapur, disebut zona seturasi, yaitu zona yang berada di bawah muka air bebas (water table), seturasi berarti daerah itu jenuh dengan air. Sedangkan water table adalah batas permukaan dari zona seturasi.

Aktifitas pelarutan semakin lama semakin membesar, sehingga timbul lorong vertikal atau horizontal bahkan ruangan yang semuanya terisi air, dan pada beberapa tempat mereka saling bertemu sehingga membentuk suatu jaringan. Pada suatu waktu, water table turun akibat adanya pergerakan bumi, sehingga lorong-lorong tersebut menjadi gua-gua yang kering (dry caves), dimana air masih ada/mengalir. Pada beberapa tempat menjadi kolam ataupun sungai di bawah tanah.

Setelah tahapan di atas, gerakan bumi yang terjadi serta erosi yang dilakukan air bawah tanah dan proses air hujan melalui retakan di sepanjang dinding gua, merubah bentuk dan struktur gua. Kemudia beberapa bentuk khas dari gua mulai terjadi, antara lain :

1. Stalaktit, yaitu ornamen gua yang membetuk ujung tombak memanjang dan meruncing ke bawah, menempel pada atap gua. Ini terjadi karena air yang mengandung larut yang tinggi menetes melalui titik kecil pada atap gua. Sebelum air menetes jatuh, mengalami penguapan sehingga larutan kapur yang terkandung di dalamnya menempel pada atap gua dan proses ini berjalan terus-menerus hingga akhirnya menjadi bentukan yang menyerupai pipa kecil dengan lubang straw. Pada tahap tertentu terjadi penyumbatan pada lubang-lubang sehingga air tidak lagi mengalir melalui ujung pipa tersebut, tetapi kembali merembes melalui pangkal pipa dan melewati bagian luar pipa menuju ujung pipa kembali dan menetes ke bawah. Akhirnya, bagian luar dari daerah pangkal pipa paling banyak mendapat tumpukkan atu tempelan larutan kapur, sehingga timbul bentukkan yang menyerupai kerucuk terbalik (stalaktit).
2. Stalakmit, terbentuk dari proses terjadinya stalaktit. Ketika air menetes jatuh ke lantai gua, terjadi penguapan air, maka timbul penumpukkan larutan kapur yang membetuk kerucut memanjang dan meruncing ke atas.

Stalaktit dan stalakmit yang ujung-ujungnya menyatu, menyerupai pilar/tiang disebut Column.

1. Drapery/korden, proses terjadinya hampir sama dengan stalaktit, hanya saja perembesannya terjadi pada sebuah celah (crack) yang memanjang pada atap gua, sehingga bentukan yang tumpul menyerupai tirai-tirai seperti korden jendela yang menggantung pada atap menuju ke bawah dengan lekukan-lekukannya.

1. Flowstone, terjadi karena penumpukkan larutan kapur pada celah memanjang yang horizontal pada dinding gua, sehingga membentuk satu gundukan berbentuk separuh bola yang permukaannya/lapisan luarnya seperti air mengalir.

1. Gourdam (dam), bentuknya seperti kolam kecil yang saling menyambung dan menumbuk sehingga membentuk jaringan persis daerah persawahan. Terjadi karena permukaan dari lantai gua tidak rata, sehingga pada suatu tempat kapur yang terlarut air mengalir ke dasar gua terhambat dan membentuk dinding sesuai dengan alur lantai yang menahannya dan terjadi secara berulang-ulang.

1. Helektite, yaitu bentuk stalaktit yang aneh karena bisa bercabang sejajar dengan atau gua, bahkan pertumbuhannya kadang tidak ke bawah tetapi ke atas menuju atap seperti melawan daya tarik bumi (gravitasi). Ada beberapa teori yang muncul tentang terbentuknya helektite, sebagai berikut :

1). Pada tekanan udara tertentu pertumbuhan menjadi horizontal arahnya.

2). Angin membuat pertumbuhan tidak vertikal ke bawah.

3). Ada beberapa molekul tertentu maupun bakteri yang mempengaruhi pertumbuhan.

1. D. Habitat Gua

Semua makhluk yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di dalam gua disebut troglodyte. Habitat troglodyte berdasarkan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan komunitasnya dapat dibagi menjadi empat zon, yaitu :

1. Zona terang, daerah yang merupakan mulut gua, cahaya masih sama seperti di luar gua.
2. Zona senja, merupakan daerah di dalam gua dimana tumbuhan hijau masih bisa tumbuh. Cahaya pada daerah ini pada senja hari.
3. Zona gelap dengan suhu berubah, merupakan daerah gelap total yang dicirikan dengan suhu dan kelembaban yang masih bisa berubah setiap saat sesuai dengan perubahan keadaan cuaca luar.
4. Zona gelap dengan suhu tetap, merupakan daerah yang terjauh dari mulut gua dengan suhu dan kelembaban yang selalu tetap.

Binatang dalam gua dapat dibagi menjadi tiga macam kelompok, yaitu :

1. a. Troglopile, yaitu binatang yang menyukai kegelapan, tetapi masih mencari makan di gua tersebut. Contohnya ; kelelawar dan burung walet. Sekalipun tempat tinggal mereka sudah termasuk dalam zona gelap total, tetapi fluktuasi suhu dan kelembaban masih konstan. Jadi troghopile memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal dan tempat berlindung.

1. b. Trogloxine, yaitu binatang yang hanya secara kebetulan ada didalam gua, karena sebenarnya binatang itu asing bagi kehidupan gua tersebut. Contohnya ; musang, ular, dan sebagainya. Binatang ini biasanya terdapat pada mulut gua sampai zona senja.

1. c. Troglobion, yaitu binatang yang seluruh siklus kehidupannya sudah dilakukan di dalam gua, sehingga memiliki sifat yang berbeda dengan binatang sejenisnya di permukaan tanah. Contohnya ; seekor ikan yang sudah sekian lama hidup dan berkembang biak dalam gua pada zona tertentu mengalami perubahan fisik menjadi tidak berpigmen, penglihatan tidan berfungsi dan alat peraba menjadi lebih telanjang. Hal demikian dapat terjadi setelah melalui waktu yang lama dan habitanya sudah benar-benar terisolasi dari pengaruh luar.

1. E. Menagement Penelusuran

Management penelusuran terbagi dalam beberapa tahapan, sebagai berikut :

1. 1. Sebelum penelusuran
1. a. Non teknis

1). Pengumpulan data dan informasi mengenai gua

2). Perajinan dan surat jalan yang dibutuhkan

1. b. Teknis

1). Perlengkapan/logistik yang dibutuhkan

2). Jumlah personil yang memadai (minimal 3 orang)

3). Meninggalkan pesan kepada orang lain tentang pelaksanaan kegiatan

1. 2. Selama penelusuran

Ada pembagian tugas dan wewenang dalam team selama kegiatan berlangsung sehingga terkoordinir dengan baik.

1. 3. Setelah penelusuran
1. a. Cheeking peralatan
2. b. Perawatan peralatan
3. c. Evaluasi kegiatan
4. d. Pembuatan laporan kegiatan

1. F. Perlengkapan Penelusuran Gua

Perlengkapan/peralatan penelusuran gua dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Perlengkapan pribadi (personal equipment), berupa :
1. a. Pakaian, terbuat dari bahan yang tembus air tetapi mudah menguap bila basah, untuk menjaga suhu tubuh agar tidak terlalu berbeda dengan suhu lingkungan. Pakaian yang ideal digunakan adalah coverall/wervak.
2. b. sepatu, biasanya digunakan sepatu boot, karena medan yang dihadapi biasanya berlumpur.
1. c. Helm boom, untuk menjaga/melindungi kepala dari runtuhan atau antukkan batu.
2. d. Survival kit, berbeda dengan survival kit di gunung hutan karena yang dikhususkan pada perlengkapan ini adalah bagaimana menghadapi keterbatasan di gua. Biasanya diutamakan adalah cahaya, logistik serta obat-obatan, baru menyusul lainnya.
3. e. Single Rop Technique (SRT), merupakan teknik untuk melintasi lintasan vertikal yang berupa satu lintasan tali. Tekni ini mengutamakan keselamatan dan kenyamanan saat penelusuran gua vertikal. Dalam pelaksanaannya digunakan alat berupa SRT set yang terdiri dari :

1). Seat harness, digunakan untuk mengikat tubuh yang dipasang pada pinggang dan paha.

2). Ascender, digunakan untuk naik atau memanjat lintasa. Ascender dibedakan menjadi hand ascender digunakan untuk dipegang di tangan dan chest ascender digunakan untuk diikatkan di dada.

3). Descender, digunakan untuk menuruni lintasan. Ada beberapa macam descender, tetapi umumnya yang sering digunakan adalah capstand. Ada dua jenis capstand, yaitu simple stop descender (bobbin/non auto stop) dan auto stop descender.

4). Mailon Rapid (MR), ada dua macam, yaitu Delta MR (besar), digunakan menyambung (dua loop) sent harness, ada dua bentuk yaitu Delta dan Semi Cireular. Dan Oval MR (kecil), digunakan untuk menyambung chest ascender dengan Delta MR atau Semi Circular MR.

5). Chest harness, digunakan untuk mengikatkan seat harnes dengan dada, biasanya menggunakan weebing.

6). Cowstail, dibuat dengan tali dinamik dan simpul dengan salah satu cabangnya lebih pendek. Cabang yang pendek digunakan sebagai pengaman saat akan mulai/selesai melintasi tali atau berpindah lintasan. Cabang yang panjang digunakan untuk menghubungakan hand ascender dengan tubuh. Pada kedua ujung cowstail dipasang carabiner no screw.

7). Foot loop, digunakan untuk pihakan kaki dan dihubungkan dengan ascender. Ada beberapa bentuk foot loop yang biasa digunakan, yaitu single foot loop, double foot loop dan stirup.

1. Perlengkapan Tim (team equipment), berupa :
1. a. Tali, digunakan sebagai lintasan yang akan dilalui, biasanya menggunakan karmantel rop jenis static rop yang mempinyai kelenturan 8 – 12 %.
2. b. Carabiner, digunakan sebagai pengait atau penghubung.
3. c. Webbing (sling), digunakan sebagai penghambat terhadap anchor.
4. d. Pengaman sisip, digunakan sebagai anchor bila tidak menemukan tambatan alam (natural anchor), dapat berupa chock, hexentric, frien.
5. e. Piton atau paku tebing, fungsinya sama dengan pengaman sisip yaitu sebagai anchor.
6. f. Driver atau hand drill, seabgai bor batuan.
7. g. hammer, fungsinya sebagai palu.
8. h. Spit, pengaman yang ditanam ke batuan dan dapat dilepas kembali.
9. i. Hanger, dihubungkan dengan spit yang telah tertanam. Jenisnya adalah plate, ring, twist, cloen, asimetric.
10. j. Tas, biasanya digunakan tackle bag yang terbuat dari bahan yang kuat dan berbentuk simpel.
11. k. Ladder atau tangga tali, digunakan sebagai lintasan manakala lintasan yang ada tidak terlalu dalam.

1. G. Teknik Penelusuran Gua
1. 1. Gua Horizontal

Medan pada gua horizontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang mudah ditelusuri sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk melewatiya.

1. Lumpur

Untuk lorong yang berlumpur dapat dilewati dengan berjalan biasa bila lumpurnya tidak terlalu tebal. Bila lumpurnya tebal, misal sedalam lutut atau lebih, dapat dilalui dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.

1. Air

Dilorong yang berair, terutama gua yang belum pernah dimasuki dibutuhkan fasilitas pendukung untuk bisa melewatinya karena kedalaman air tidak diketahui, demikian juga kondisi di bawah permukaan air. Untuk keselamatan sebaiknya semua anggota team dibelay atau juga dengan moving together dimana semua anggota team terhubung dengan tali. Pada kondisi tertentu, bila dibutuhkan dan dimungkinkan dapat memakai pelampung atau perahu karet.

Untuk lorong yang sempit dan hampir semua terpenuh air dapat dilewati dengan teknik ducking, yaitu kepala menengadah dan kaki sebagai peraba medan di depan. Ini dilakukan agar bila ada perubahan medan secara drastis, si penelusur masih dapat mundur.

Pada lorong yang selurunya terisi air (sump), untuk melaluinya harus dengan menyelam (diving). Penyelamatan di gua (cave diving) sangat berbahaya dan memiliki ratio kematian 60 %. Dengan ratio sebesar ini sebaiknya tidak meneruskan penelusuran bila peralatan tidak standar.

Pembagian team untuk melewati medan air juga harus disesuaikan, misalnya leader tidak boleh membawa beban berat karena harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan.

1. Climbing

Teknik climbing juga sering digunakan dalam penelusuran gua. Misalnya bila kita menemui water fall, waktu lintasa (rigging), melewati calcite floor atau oolith floor.

1. 2. Gua Vertikal

Single Rope Technique (SRT) adalah teknik untuk melewati lintasan vertikal, yang berupa atau satu lintasan tali. Tekni ini digunakan untuk menelusuri gua-gua vertikal. Ada beberapa jenis teknik SRT seperti Texas System, Rope Walker System, Mitchele System, Floating Cam System, Jumar System, Fro Rig dan lain-lain. Namun di Indonesia khususnya di Yogyakarta memakai sistem frog rig, adapun peralatan yang digunakan dalam sistem ini, yaitu seat harness, ascender (hand ascender dan chest ascender), descender, mailon rapid (MR), chest harness, cowstail, foot loop dan kermantle rope.

Pengorganisasian SRT set pada sistem ini yaitu seat harness dihubungkan dengan MR delta atau semu circular, didalam MR dirangkaikan peralatan lainnya, palang kiri cowstail yang dihubungkan dengan jummar (hand ascender) dan foot loop pada cabang yang panjang, oval MR dihubungkan dengan chest ascender terus descender, dan paling kanan carabiner bebas sebagai pengatur laju tali yang melalui descender.

Karena lorong vertikal tidak merata dan berbeda-beda, maka untuk keselamatan dan kemudahan saat melewati lintasan, maka ada beberapa variasi lintasan sebagai konsekuensinya, yaitu :

1. Lintasan lurus, yaitu lintasan yang mulus ke bawah tanpa ada gesekan lintasa dengan dinding gua.
2. Lintasan intermediate, bertujuan untuk menghilangkan gesekan tali dengan dinding gua, dengan membuat anchor pada titik gesekan.
3. Lintasan deviasi, berguna untuk menghilangkan friksi tali dengan dinding gua, dibuat dengan cara menarik tali kearah luar gesekan.
4. Lintasan sambungan, dipakai pada lintasan dimana satu buah tali terpaksa disambung untuk mencapai dasar picth.

1. H. Bahaya Penelusuran Gua

Kegiatan penelusuran gua adalah aktifitas yang mengandung resiko tinggi (right risk activity). Hal itu disebabkan karena gua mempunyai medan yang berbeda dengan yang kita hadapi sehari-hari. Bahaya penelusuran gua dapat dibagi menjadi :

1. Antroposentrisme, yaitu bahaya terhadap manusia (penelusur gua). Dapat disebabkan oleh faktor :
1. Faktor manusia, bahaya ini dapat berupa tergelincir, terjatuh, terantuk, kejatuhan, tersesat, tenggelam, kedinginan, dehidrasi, gigitan binatang berbisa, dan lain-lain.
2. Perlatan yang digunakan, setiap penelusur gua harus terampil dalam penguasaan dan penggunaan alat. Pemakaian peralatan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan setiap penelusur gua. Karena pemakaian peralatan dengan cara yang salah selain merusak alat tersebut, juga bisa berakibat fatal. Ini sangat berbahaya mengingat penelusur gua sangat tergantung pada alat. Pemasangan pengamanan atau beban yang berlebihan juga harus diperhatikan oleh penelusur gua.
3. Faktor gua, dapat menimbulkan bahaya karena kemungkinan yang tak terduga seperti runtuhan atap/dinding karena gempa, juga karena adanya gas beracun dalam gua tersebut.

1. Speleosentrisme, yaitu bahaya terhadap gua yang disebabkan oleh manusia (penelusur gua). Diakui atau tidak, kegiatan penelusuran gua bagaimana pun juga akan memberikan kerusakan terhadap gua itu sendiri, kerusakannya dapat berupa rusaknya ornamen-ornamen yang ada dalam gua, terganggunya biota dalam gua dan lain sebagainya. Tinggal bagaimana komitmen dari para penelusur gua untuk dapat meminimal terjadi kerusakannya tersebut.

Kecelakaan lain yang sering terjadi adalah keracunan atau kekurangan oksigen (hipoksia). Tanda-tanda kadar oksigen :

1. a. 20 % : udara normal
2. b. 16 % : lilin tidak menyala
3. c. 15 % : pada raut muka terdapat gejala hipoksia
4. d. 12 % : hipoksia serius
5. e. 8 – 10 % : lampu karbit tidak menyala
6. f. 7 – 8 % : kesadaran menurun drastic diikuti kematian

Kekurangan oksigen biasanya terjadi dilorong-lorong sempit, ducking, juga sump. Pemakaian obor dan lampu petromak tidak dianjurkan karena menambah kadar karbondioksida (CO2). Gas CO sangat menghantui para cavers karena cepat mematikan, disamping itu tidak berbau dan tidak berwarna.

Gas CO dapat timbul akibat peledakan dinamit dan penyalaan api unggun pada gua, ketika bernafas dapat menghisap asap diluar gua. Beberapa macam gas didalam gua, diantaranya :

1. Gas Nitro, menyebabkan bibir dan kulit kebiruan, nyeri pada kepala dan tekanan darah menurun drastis. Gas ini tidak berwarna hitam dan tidak berbau.
2. Gas Sulfur, terdapat pada daerah gunung berapi (gua lava), berbau seperti telur busuk dan tidak berwarna. Dapat diatasi dengan masker industri atau bauan kopi.
3. Udara gua yang penuh debu, membuat sesak nafas, sakit saat bernafas dan batuk kering. Dapat diatasi dengan masker, biasanya terdapat pada gua-gua yang kering atau gua-gua yang tidak aktif lagi pembentukkannya.
4. Udara gua yang mudak meledak atau terbakar, gas metan, gua ini sangat berbahaya jika menggunakan lampu karbit atau korek api.

1. I. Kode Etik Penelusuran Gua
2. Setiap penelusuran gua menyadari bahwa gua merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar, karena itu penulusur gua harus :
1. a. Tidak mengambil sesuatu kecuali potret (take nothing but pictuter)
2. b. Tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak (leave nothing but footprint)
3. c. Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu (kill nothing but time)
3. Setiap penelusur gua sadar bahwa setiap bentuk alam didalam gua, terjadi dalam waktu ribuan tahun.
4. Setiap usaha merusak gua, mengambil/memindahkan sesuatu dari dalam gua tanpa tujuan yang jelas dan ilmiah selektif akan mendatangkan kerugian yang tidak dapat ditebus. Setiap menelusuri gua dan menelitinya diusahakan seefektif dan seefesien mungkin.
5. Dalam hal menelusuri gua para penelusur tidak memandang rendah keterampilan dan kesanggupan sesama penelusur. Penelusur dianggap melanggar etika bila memaksakan dirinya untuk melakukan tindakan-tindakan yang diluar batas kemampuannya.

1. J. BIOSPEOLOGI

Biospeologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan beserta kondisi lingkungan hidup organisme di dalam gua. Aspek utama yang dipelajari dalam biospeologi meliputi studi tentang organisme yang hidup di dalam gua, material organic dalam sedimen yang menyediakan makanan dasar bagi organisme, variable lingkungan (temperatur, kelembaban yang mempengaruhi distribusi, dan kelimpahan organisme), serta hubungan antar organisme atau organisme dengan lingkungan gua.

1. 1. Karakteristik lingkungan gua


Meski di dalam gua kondisi lingkungan beragam, tetapi bila dibandingkan Caving_Repel_Pic_thumbdengan kondisi fisik lingkungan di luar gua akan mempunyai keragaman yang lebih kecil. Beberapa parameter fisik yang berkaitan dengan kondisi fisik gua antar lain :

1. a. Suhu di dalam gua mendekati rata-rata suhu tahunan daerah di luar gua.
2. b. Kelembaban yang sangat tinggi mencapai lebih dari 90% dan jarang dibawah 80 %
3. c. Secara kimiawi air gua dicirikan dengan kadar alkali dan pH yang relatif tinggi.
4. d. Pada aliran sungai di gua, kosentrasi oksigen biasanya tinggi, tapi dalam kolom Rimstone yang airnya berasal dari rembesan dan resapan, kandungan oksigennya bisa rendah.
5. 2. Zona lingkungan gua

Moore dan Sullivan, 1978 membagi lingkungan gua menjadi 3 bagian, yaitu :

1. a. Zona terang ( Twilight Zone)

Merupakan daerah yang dekat dengan mulut gua yang memungkinkan mendapat sinar matahari secara langsung. Zona ini memiliki densitas organisme yang tinggi.

1. b. Zona peralihan ( Middle Zone)

Zona ini dicirikan dengan adanya daerah gelap total, tetapi memiliki kelembaban dan temperature yang berfluktuasi pada siang dan malam hari. Zona ini masih bisa mendapatkan cahaya matahari walaupun tidak secara langsung, yaitu melalui pantulan.

1. c. Zona gelap (Totally Dark Zone)

Merupakan cirri gua yang memiliki kegelapan abadi, dimana secara alami tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk. Temperaturan dan kelembaban relative konstan sepanjang tahun, kalaupun ada variasi mempunyai fluktuasi kecil.

Sejalan dengan perubahan zonasi diatas, tekanan atmosfer dan temperature dalam gua akan semakin menurun. Adanya penurunan diatas mengakibatkan aliran udara didalam gua sangat kecil.

1. 3. Adaptasi biota gua

Guna menjaga kelangsungan hidupnya dan kelestarian generasinya, maka organisme gua melakukan bentuk-bentuk adaptasi guna menghadapi kondisi lingkungan guayang sangat ekstreem dan spesifik. Adapun bentuk adaptasi yang dilakukan oleh biota-biota tersebut secara garis besar dibagi 4, yaitu :

1. a. Kompensasi sensori (Alat perasa)

Sensor terhadap cahaya (penglihatan) mengalami kemunduran / reduksi dan digantikan dengan sensor terhadap gerakan dan perabaan yang mengalami peningkatan menjadi sangat peka. Peningkatan kepekaan alat perasa pada saatnya akan menghasilkan pertambahan anggota tubuh yang berfungsi sebagai alat perasa.

1. b. Adaptasi terhadap kelembaban tinggi

Organisme gua yang hidupnya di daerah tidak berair (terrestrial) harus beradaptasi dengan udara yang jenuh dengan uap air. Ada batas maksimum toleransi terhadap kelembababan hewan gua yang masuk Arthropoda terrestrial yang hidup di permukaan tanah. Howarth (1983) menyatakan bahwa hewan-hewan gua mampu melakukan mekanisme ekskretori (pengeluaran) air yang efektif sehingga akan meningkatkan permeabilitas kutikuler dengan cara mereduksi kutikula.

1. c. Metabolisme Ekonomi

Karena maknan sangat jarang di dalam gua, hewan gua akan menurunkan laju metabolisme yang bertujuan menghemat energi yang memungkinkan hewan untuk bertahan terhadap kelaparan. Selain itu, hewan akan mempunyai cadangan energi untuk keperluan yang lebih penting seperti reproduksi.

1. Neoteni

Kondisi keterbatasan tersedianya makanan menyebabkan hewan gua harus mengembangkan strategi tertentu untuk mengatasinya. Strategi adaptasi tersebut adalah neoteni (perlambatan pertumbuhan tubuh). Hal ini juga dimaksudkan untuk mengalihkan penggunaan energi untuk reproduksi. Hewan akan menunjukkan morfologi masih muda (juvenile) seperti ukuran badan dan kepala meskipun mereka telah dewasa, bentuk yang demikian dinamakan Paedomorph.

Berdasarkan tingkat adaptasi dan tingkat siklus hidupnya, Moore & Sullivan (1978) membagi biota gua menjadi 3 kelompok :

1). Trogloxene

Kelompok biota ini tidak pernah melengkapi siklus hidupnya di dalam gua. Biasanya mereka tinggal di mulut gua untuk mencari tempat istirahat dan perlindungan sementara. Setelah keadaan membaik/sesuai, mereka meninggalkan gua. Contoh hewan yang hidup di daerah ini ialah musang, ular, dan sebagainya.

2). Troglophile

Biota di dalam kelompok ini biasanya hidup di zona gelap, walaupun bisa hidup di luar guaapabila lingkungannya tidak jauhberbeda. Adaptasi yang telah dilakukan menyebabkan mereka dapat menyelesaikan siklus hidupnya di dalam gua. Contoh hewan yang hidup di daerah ini ialah kekelawar dan burung wallet.

3). Troglobion / Trogobite

Kelompok biota ini adalah hewan yang hidup permanent di dalam gua dan hanya ditemui di dalam gua. Seluruh siklus hidupnya diselesaikan di dalam gua. Biasanya mereka mempunyaio pigmenyang telah mereduksi dan mata yang kecil bahkan tidak ada sama sekali (Moore & Sullivan, 1978).

1. 4. Jaring- Jaring Makanan di Dalam Gua

Jaring- jarring makanan merupakan perputaran kembali materi-materi organic diantara populasi yang ada di dalam gua. Sebagai contoh jaring makanan yang terjadi di dalam gua ialah : Jamur mendapat nutrisi dari proses peruraian dan dengan cara menyerap substansi organik dari materi tersebut atau yang terdapat di dalam kotoran hewan. Serangga pemakan jamur seperti Beetles, Springtail, Mites memakan jamur benang dan bakteri. Hewan akuatik gua dapat mencerna materi organic yang mengapungsecara langsung. Hewan-hewan ini pada gilirannya akan disantap oleh pemangsa yang lebih besar seperti Salamender, Crayfish, dan ikan-ikan. Dalam siklus makanan ikan-ikan ini akan mati dan terurai sehiongga menghasilakn materi organic ke dalam lingkungan gua. Kotoran gua merupakan sumber lain materi organic.

Perputaran makanan di dalam gua seringkali dikatakan sebagai Closed Ecologic System ( Ekosistem Tertutup). Dalam suatu system yang benar-benar tertutup, setiap organisme pemakan organisme lain pada gilirannya akan dimakan oleh organisme lainnya dalam system yang sama. Tetapi system ini tidak bisa terpelihara tanpa adanya bantuan secara tidak langsung dari sinar matahari.

Di dalam gua tidak ada produsen primer kecuali beberapa bakteri Autotrof Khemosintetic yang menggunakan besi dan sulfur sebagai donor elektron. Jadi secar umum komunitas gua hanya terdiri dari dekomposer dan predator. Sumber makanan/energi untuk biota gua berasal dari luar ekosistem gua , yaitu berupa :

1. Faeces/kotoran (guano) dan sisa makanan dari kekelawar dan hewan trogloxene lain.
2. Detritus/ sisa tumbuhan yang terbawa masuk pada gua yang mempunyai aliran sungai
3. Akar tanaman yang masuk melalui rekahan dinding gua yang mempunyai aliran sungai organik dan mikroorganisme.

Dalam ekosistem gua dapat dibagi 2 komunitas yaitu komunitas langit(atas) dan komunitas lantai (bawah). Komunitas langit terdiri dari kekelawar dan burung, komunitas ini penting artinya bagi komunitas lantai karena merupakan sumber makanan utama (guano). Komunitas lantai terdiri dari jamur, milipedes, jangkrik gua, dan amblyphygi serta hewan-hewan akuatik. Pada komunitas lantai terjadi rantai makanan yang sesungguhnya, dimana terjadi proses makan dimakan dan predasi. Bangkai dari bita gua akan menjadi sumber makanan baru daam jaring-jaring makanan gua (Whitten, 1996).

1. K. KARSTOLOGI

Karst merupakan batuan gamping yang telah mengalami proses pelarutan oleh asam karbonat dan beberapa jenis asam lainnya sebagai hasil pembusukan sisa tananman di atas batu gamping. Batuan gamping yang mengalami proses karstifikasi akan menunjukan morfologi yang unik baik dipermukaan tanah yang disebut fenomena eksokartstik dan di bawah permukaan tanah yang disebut fenomena endokartstik seperti timbulnya sistem aliran bawah tanah, gua-gua batu gamping dengan dekorasinya. (speoleothom).

Fenomena kawasan karst di atas permukaan tanah antara lain :

1. Doline

Adalah cekungan tertutup (Closed Depression) yang memiliki ke dalaman 2-100 meter dengan diameter 10-100 meter.

1. Uvala

Cvijik (1901) mendiskripsikan istilah slovenic / uvala ini untuk cekungan dan dasar yang luas dan tidak rata sedangkan Lehmann (1970) mengartikan unyuk lembah menjang, kadang-kadang berkelok-kelok dan biasanya dasar berbentuk cawan di daerah karst.

1. Singking Creek

Ialah sungai yang mengalir di daerah karts akn tetapi menghilang karena mengalir masuk ke aliran bawah tanah.

1. Sink

Ialah tempat sungai permukaan itu lenyap, air menghilang secara defuse melalui material alluvium

1. Swallow Hole

Apabila permukaan sungai hilang melalui lubang yang nyata terlihat.

1. Poljes

Depresi di daerah karst yang luas areanya berkelok-kelok dan dasarnya tertutup depositalluvium atau residu oleh pelapukan.

1. Danau Karst

Letaknya biasanya terdapat di cekungan, terbentuk karena adanya lapisan kedap air pada dasar danau, akibat akumulasi dari Lumpur atau bahan residu pelapukan yang kedap air.

1. Natural Bridge

Suatu fenomena yang menyerupai jembatan di daerah karst.

1. 1. Aspek-aspek Eksternal dan Internal

Aspek eksternal yang paling penting dalam mempercepat proses karstifikasi yaitu

1. a. Penyediaan air permukaan yang besar
2. b. Zona tanah dengan humus dan material organikyang memproduksi CO2 sehingga pH dari air perlokasi menjadi lebih rendah.
3. c. Suhu yang tinggi.

Sedangkan aspek-aspek yang mempercepat proses karatifikasi secara internal, ialah:

1). Batu gamping berkristal dengan celahan dan pecahan batu halal.

2). Formasi batu gamping tebal dengan arah infiltrasi luas.

1. 2. Hidrologi karst

Menurut Hondl (1089) Hidrologi dari suatu batuan karbonat hanya dapat dipahami bila kita melakukan observasi teliti dari sifat-sifat fisik dan distribusi dari bantuan itu. Hidrologi karet sangat dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :

1). Geologi, termasuyk deomorfologi karat, sratigrafi litologi, poronitas/kesarngan, pemeabilitas/kesarangan bantuan karbonat sistem patahan, dan geser

2). Iklim

3). Penutup kawasan karst

1. a. Zone hidrologi karat meliputi :

1). Zona aerasi

Air perlokasi akan bergerak mengikuti gara berat

2). Zone Fluktuasam

Menurut iklim zone ini sifatnya tradisional bila permukaan air turun, zone ini masuk ke dalam zone aerasia.

3). Zone Saturasi

Air karst bererak sepanjaang tahun

4). Zone Sirkulasi

Air tanah tidak dipengaruhi oleh dijumpai rongga-rongga atau gua-gua yang terjadi karena proses apoleogenosis. Goa yang menempati lapisan endokarsttik merupakan suatu system yang tak dapat dipisahkan dari ekosistem di atasnya.

1. L. SPELEOGENESIS

Batuan kapur dan marmer (batu kapur yang dikristalisasi dengan panas dan tekanan) yang terdiri dari material kalsit (Ca7 CO 3) merupakan batuan pembentuk gua. Batuan-batuan tersebut terbentuk pada zaman lautan purba jutaan tahun yang lalu oleh tumbuhan dan hewan laut yang mengekstraksi kalsium karbonat (Ca CO3) dari air laut. Butir-butir pasir yang mengandung fragment-fragment dari organisme tersebut, bersama-sama dengan material hasil aktifitas mikroorganisme akan memadatkan karena tekanan dan mengalami sementasi menjadi batuan padat. Akhirnya suatu kekuatan dasyat mengangkat batuan sediment dari dasar laut ke daratan.

Umur suatu gua kecil hubungannya dengan umur dari batuan yang menutupinya. Kebanyakan gua umurnya lebih muda dibandingkan umur batuannya. Pada umumnya umur batuan yang ada di dunia ini sekitar ratusan juta tahun akan tetapi umur gua sendiri sekitar 10 juta tahun.

Goa batuan kapur terbentuk karena proses pengasanman batuan kalsium karbonat. Bahkan asam sangat cair yang terdapat di dalam air permukaan tanah yang mebentuk goa jika diberi waktu cukup. Asam yang sangat berperan dalam proses pelarutan batuan kapur secara alami untuk membentuk gua adalah asam karbonat (H2CO3) yang dihasilkan dari penggabungan air dan CO3.

Asam karbonat termasuk asam lemah walaupun berada dalam kondisi / kosentrasi maksimum. Udara atmosfer hanya 0,03% CO2, tetapi asam karbonat yang dihasilkan terlalu cair sehingga tidak efektif dalam membentuk goa. Kebanyakan CO2 yang berperan aktif dalam pembentukan asam yang melarutan batuan kapur berasal dalam tanah, disana sebagai akibat pengurai humus dapat dihasilkan H2CO3 dalam jumlah yang banyak dan kosentrasi tinggi. CO2 dan air (H2O) bersama-sama mengubah batuan kapur dengan reaksi ganda sebagai berikut :

CO2 + H2O ————— H2CO3

H2CO3 + CaCO3 ———– Ca2+ + 2HCO3

Karbon dioksida bersama air membentuk asam karbonat yang kemudian melarutkan kalsit dan menguraikan menjadi ion-ion terlarut. 1 m3 air yang dibiarkan di udara terbuka yang mengandung 10 % CO2 dapat melarutkan ±250 gram kalsit.

M. SPELEOTHEM

Bentukan atau bangunan yang terbentuk dalam goa karena deposisi mineral-mineral sekunder (stalaktit, stalakmit, dll) yang disebut speleothem. Di zona tanah, sisa-sisa tanaman dengan cepat diuraikan . CO2 yang ada di udara tanah jauh lebih banyak sekitar 10-30 % dari pada yang ada di atmosfer, CO2 bersama dengan air tanah akan membentuk asam karbonik yang kemudian akan melarutkan sebagian dari batu kapur, selanjutnya merembes ke bawah menuju gua. Ketika air yang merembes di udara gua yang pada umumnya mempunyai tekanan parsial CO2 terlarut jauh lebih rendah dari dari udara tanah, menyebabkan perubahan kimia sebagai berikut :

Ca2 + 2HCO3 ————————— CO2 + CaCO3 + H2O

Larutan kalsium

Bikarbonat

Proses di atas merupakan kebalikan dari proses pembentukan gua dari pelarutan batuan gamping.

Kehilangan CO2 tersebut di atas itulah , bukan penguapan air merupakan sebab utama terbentuknya kalsit speleothem. Stalaktit dan speleothem lainnya hampir merupakan kalsit murni (CaCO3) walaupun dari dalam air yang kemudian mengikat CO2 menjadi kalsium karbonattersebut juga terlarut material-material lainnya.

Pertumbuhan Stalaktit dan Speleothem lainnya

Stalaktit dan deposit lainnya yang semacam

Bentukan-bentukan yang berasal yang berasal dari pengendapan di dalam gua, di tentukan oleh bentuk dari tetesan air dan gaya gravitasi yang bekerja padanya sebelum jatuh. Ada beberapa bentukan yang terjadi :

1. a. Tubular Stalaktit

Deposit kalsit yang terjadi berbentuk seperti cincin kecil, cincin demi cincin terbentuk menyerupai silinder berongga yang berdiameter sama dengan tetesan air yang menetes darinya. Air terus mengalir dari ujung stalaktit sehingga stalaktit bertambah panjang.

1. b. Drapery

Bentuk kalsit tipis yang jernih seperti lembaran menggantung dari atap gua. Biasanya 3 meter atau lebih.

1. c. Stalagmit

Adalah kebalikan dari stalagtit, tumbuh dari lantai goa.

1. d. Coloum

Adalah bentukan yang terjadi karena pertemuan antara stalakmit yang tumbuh ke atas dan pertumbuhan stalaktit yang tumbuh ke lantai goa.

1. e. Flowstone

Jika aie mengalir pada dinding goa akan terbentuk lembaran-lembaran kalsit yang secara keseluruhan berbentuk seperti aliran air sehingga disebut flowstone.

1. f. Rimstone dams

Terdapat di lantai goa, merupakan bentukan seperti dinding yang mengurang air atau “damn streams”

1. g. Cave pearl / mutiara gua

Adalah yang paling jarang, karena lepas tidak terikat pada lantai dan dinding gua.

1. h. Pisolites

Mutiara gua yang berbentuk di lautan dengan diameter lebih dari 2mm.

1. i. Oolites

Seperti pisolites tetapi diameternya kurang dari 2 mm

1. Deposit yang terbentuk oleh “seeping water”

Mungkin objek menarik ditemukan di gua adalah yang dibentuk oleh seeping water. Speleothem ini berbentuk aneh, sebagian darinya sangat indah dan lembut menonjol pada dinding gua sedemikian rupa sehingga seakan-akan mereka melawam grafitasi.

1. a. Heliotites

Deposit dengan struktur kecil yang terpuntuir, biasanya mengandung kalsit. Panjang beberapa cm atau lebih dan berdiameter ± 5 mm. Karena heliotites menonjol dari atap, dinding goad an lantai goa dengan sudut yang berbeda-beda, maka beberapa peneliti menyebutkan sebagai “eccentric stalaktes”.

1. Deposit yang dibentuk oleh genangan air
1. a. Cave Rart

Suatu lapisan tipis seperti film dengan tebal kurang dari 0,1 mm, mengapung didukung oleh tekanan permukaan kolam. Biasanya dari kalsit.

1. b. Cave bubble

Tidak pernah berdiameter lebih dari 5 mm, mempunyai dinding yang sangat tipis, dibentuk pada permukaan air dengan mengkristalkan kalsit di sekitar “bubble”
( gelombang )

Posted by jarwok,legua caving speleologi Palembang

NAVIGASI

Pengetahuan Dasar Navigasi Darat

Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita, dan tanah air.

1. Peta

Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.
Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :
• Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
• Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
• Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
• Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.
• Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
• Legenda peta, adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.

Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.

2. Koordinat

Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :
a. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30?), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60?).
b. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1mm).

MOUNTAINEERING

Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Hill Walking/Hiking

Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.

Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.

Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…

Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap.

Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!

Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.

2. Climbing

Climbing adalah olah raga panjat yang dilakukan di tempat yang curam atau tebing. Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk oleh bebatuan yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.

Di dalam arti yang sebenarnya memang climbing itu panjat tebing. Tetapi banyak pula orang mengartikan bukan hanya panjat saja dalam kegiatan climbing ini melainkan juga Repling (turun tebing), Pursiking (naik tebing dengan menggunakan tali pursik) dan lain-lain.

Biasanya orang melakukan pemanjatan tebing ini dilakukan dengan konsentrasi yang tinggi, kekuatan tangan, kekuatan kaki, keseimbangan tubuh dijadikan tolak ukur dalam melakukan pemanjatan ini. Panjat tebing bukan hanya di alam tetapi kita bisa di tebing buatan (woll-climbing).

Dalam divisi climbing ini sangatlah mengharapkan peran lembaga STTA dalam melancarkan kegiatannya, yaitu adanya pembuatan woll-climbing. Didalam pembuatan wool-climbing memang memerlukan dana yang cukup besar. Maka dari itu Palastta mengharapkan kerjasama dari pihak manapun untuk dapat bekerja sama dalam pembuatan wool-climbing ini.

3. Rock Climbing

Rock Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.

Ice and Snow Climbing

Ice and Snow Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.

ALAT CLIMBING

Tali Pendakian

Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :

  • Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
  • Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).

2. Carabiner

Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :

  • Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
  • Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)

3. Sling

Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
– sebagai penghubung
– membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
– Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
– Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.

4. Descender

Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.

5. Ascender

Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

6. Harnes / Tali Tubuh

Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas :

  • Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
  • Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
    Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.

7. Sepatu

Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :

  • Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
  • Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

8. Anchor (Jangkar)

Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :

  • Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
  • Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.

SURVIVAL

Survival merupakan kemampuan untuk bertahan hidup di dalam kondisi apapun. Survival juga bisa diartikan sebagai teknik dalam menghadapi berbagai ancaman yang mengancam keselamatan diri. Di kalangan penggiat out bond survival dimaknai sebagai kemampuan dan teknik bertahan terhadap kondisi yang membahayakan kelangsungan hidup yang terjadi di alam terbuka dengan mempergunakan perlengkapan seadanya. Pelaku dari survival sendiri disebut survivor.

Kemampuan bertahan hidup (survival) ini sangat penting dikuasai oleh setiap orang yang sering beraktifitas di alam bebas seperti pecinta alam dan pendaki gunung. Dengan memahami prinsip dasar survival, seorang survivor diharapkan mampu mempersiapkan diri (penguasaan medan, peralatan, dan teknik) dan mampu mengambil tindakan yang tepat.

Berdasarkan jenis medannya, Survival dapat dikategorikan menjadi 4 jenis yaitu:

  1. Survival di hutan (Jungle Survival)
  2. Survival di laut (Sea Survival)
  3. Survival di padang pasir (Desert Survival)
  4. Survival di dareah kutub (Antartic Survival)

Namun jika dilihat berdasarkan kondisi alam di indonesia, survival bisa juga mencakup kemampuan bertahan terhadap medan hutan belantara, rawa, sungai, padang ilalang, gunung berapi, dsb. Dari masing-masing medan tersebut diperlukan persiapan dan penanganan yang kadang berbeda.

Ketika menghadapi kondisi yang menuntut untuk survival yang terpenting adalah tidak perlu panik. Hal ini biasanya di rumuskan dengan istilah “STOP” yang terdiri atas:

  • S : Seating (berhenti)
  • T : Thingking (berpikirlah)
  • O : Observe (amati keadaan sekitar)
  • P : Planning (buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan)

Sikap tidak panik ini sangat penting sehingga seorang survivor mampu menggunakan lima elemen dasar dalam survival dengan baik. Kemampuan memanfaatkan kelima elemen ini akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu survival. Kelima elemen dasar itu adalah: api, pelindung, sinyal, makanan dan minuman, dan pertolongan pertama.

  • Api

Api mempunyai peranan yang sangat penting dalam survival karena berfungsi sebagai penghangat tubuh (ketika malam), menghalau binatang buas, penerangan, memberikan sinyal bahaya dan untuk memasak makanan dan minuman.

Untuk menciptakan api bisa menggunakan dua cara yaitu dengan pemakaian alat (korek api) dan dengan cara alami. Karenanya sangat penting bagi seorang yang berada di alam bebas untuk selalu membawa korek api yang tahan air atau menyimpannya di tempat yang tahan air. Sedangkan untuk cara kedua, membuat api dengan cara alami salah satunya adalah dengan batu dan kayu kering yang tentunya membutuhkan keahlian khusus yang di dapat lewat latihan.

Yang perlu diingat, untuk menciptakan panas, ternyata api kecil mampu memberikan kehangatan yang lebih dibanding api besar. Untuk membuat api, bisa mencari potongan-potongan kayu. Kumpulkan secukupnya kemudian berilah sedikit minyak atau bahan lain yang mudah terbakar (plastik atau kertas) untuk memulai pembakaran.

  • Pelindung

survivalPelindung diartikan sebagai apa pun yang mampu melindungi tubuh dari sengatan matahari, dingin, angin hujan atau pun salju. Baju adalah pelindung pertama tubuh. Pakailah baju yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Jika panas gunakan baju yang tipis. Sebaliknya jika cuaca sedang dingin pakailah baju tebal (hangat). Kenakan jas hujan bila turun hujan.

Selain baju, jika harus berdiam cukup lama di tempat dengan temperatur dingin atau sewaktu malam hari diperlukan bivouc atau tenda baik yang telah dipersiapkan dari rumah maupun mempergunakan bahan-bahan dari alam seperti gua, ranting pohon, dedaunan dan lain sebagainya.

  • Sinyal

Sinyal yang dimaksudkan di sini adalah segala sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk meminta pertolongan atau memberitahukan kondisi dan lokasi kita. Alat yang dapat digunakan seperti api, cermin, lampu senter, bendera. Ada berbagai cara yang bisa dipakai untuk memberikan sinyal. Jika ingin memanfaatkan api untuk sinyal maka berhati-hatilah jangan sampai terjadi kebakaran. Gunakan sinyal cermin jika melihat pesawat atau orang pada jarak yang cukup jauh. Sedangkan bila malam tiba bisa menggunakan lampu senter untuk memberi sinyal. Atau bisa pula meminta perhatian dengan cara membuat asap dengan pembakaran. Selain itu, batu, balok atau kain yang berwarna mencolok bisa juga dimanfaatkan untuk memberikan sinyal.

  • Makanan dan minuman

Makanan dan minuman adalah hal vital. Karena itu, Anda harus pandai memanfaatkan persediaan air dan minuman yang sangat terbatas. Cobalah minum jika sedang haus atau sore hari. Pasalnya, manusia bisa hidup selama tiga hari lebih tanpa air. Selain itu, perhatikan soal makanan manusia mampu bertahan hidup tanpa makanan hingga 3 minggu karenanya jangan sembarang memakan tumbuhan yang belum dikenali benar.

  • Pertolongan pertama

Pertolongan pertama adalah pertolongan darurat atau sementara untuk menghindari bahaya yang lebih besar seperti pertolongan terhadap gigitan binatang dan hipotermia. Dalam memberikan pertolongan pertama bisa menggunakan peralatan (obat-obatan) yang telah kita persiapkan sejak awal ataupun memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Kemampuan memberikan pertolongan pertama memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang harus dilatih.

Ini hanyalah sekedar pengetahuan dasar tentang survival. Tentang teknik lebih lanjut survival (mungkin) akan saya sampaikan di lain kesempatan.

Tulisan ini terinspirasi oleh postingan 5 Kemampuan Dasar Bersurvival yang penulis baca di akstrimpala.wordpress.com dengan pengembangan dari berbagai sumber. Sumber foto: adventure.nationalgeographic.com dan http://www.exelement.co.uk

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.